This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 01 Agustus 2021

Jangan Sepelehkan Kebaikan walau Hanya Singkirkan Duri di Jalan

Halo Sahabat BBW jangan lewatkan memetik pelajaran setiap langkah perjalanan ya.

Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita bahwa keimanan itu memiliki tujuh puluh bagian. Bagian tertinggi ialah kalimat Lâilâhaillallâh, sedangkan bagian terendah ialah menyingkirkan duri di jalan. Memalui beberapa hadits berikut ini, Baginda Nabi hendak mengisahkan seorang pria yang dimasukkan Allah ke dalam surga gegara menyingkirkan sebuah dahan berduri di jalan yang biasa dilalui kaum Muslimin agar tidak membahayakan mereka.  

Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan: 

  بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ  

 “Saat seorang pria sedang berjalan, tiba-tiba ia mendapati sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan. Kemudian ia menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya” (HR al-Bukhari).   Sementara dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan:

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ، فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ  

 “Dikisahkan ada seorang pria melewati dahan sebuah pohon di badan jalan. Ia lantas berkata, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan dahan ini agar tidak menghalangi kaum Muslimin.’ Berkat amal itu, ia dimasukkan ke surga.”   Masih dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengisahkan:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ   

“Aku melihat seorang pria yang mendapatkan kenikmatan di surga karena sebuah pohon yang dipotongnya di badan jalan karena akan mengganggu orang lain.”  

Hadits ini mengisahkan seorang pria yang melintas di sebuah jalan. Kemudian ia menemukan sebuah dahan berduri yang menghalangi jalan kaum Muslimin dan diyakini dapat mengganggu siapa pun yang lewat di sana. Maka ia bermaksud untuk memotong dahan tersebut dan menyingkirkannya dari badan jalan. Tujuannya agar tidak membahayakan orang lain, terutama kaum Muslimin. Maka Allah pun mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam melihatnya telah mendapatkan nikmat surga berkat amalnya tersebut.

Dari kisah di atas, kita tahu ada seorang pria yang telah berbuat amal kecil, namun dibalas dengan balasan besar. Sungguh rahmat Allah begitu luas! Karunia-Nya begitu agung. Dan apa yang telah dilakukannya sesuai dengan anjuran syariat, sebagaimana sabda Rasulullah, “Singkirkanlah duri dari jalan kaum Muslimin” (HR Ibnu Abi Syaibah).   

Pada saat yang sama beliau juga memperingatkan kita agar tidak mengganggu apalagi mencelakakan sesama Muslim, seperti dalam haditsnya, “Siapa yang membahayakan kaum Muslimin, maka wajib atasnya mendapatkan lakna mereka.” (HR Ath-Thabrani).   

Banyak sekali nas yang berbicara soal ini. Namun, intinya adalah menunjukkan betapa mulianya kaum Muslimin yang mengamalkan tuntutan syariat dan ajaran Islam. Mereka harus menjaga kebersihan jalan, alih-alih mengotori dan merusaknya. Mereka dianjurkan menyingkirkan penghalang atau duri jalan jika menemukannya. Seperti itulah akhlak kaum Muslimin diajarkan agama Allah seraya berharap balasan dan ridla-Nya.   

Dari kisah dan hadits di atas, dapat dipetik sejumlah pelajaran berharga, di antaranya: 

Betapa besarnya keutamaan amal kebaikan, walaupun sekadar menyingkirkan sebuah duri di jalanan kaum Muslimin. Di dalamnya ada balasan yang besar dan pahala yang tak terkira ketika Allah sudah ridla terhadap pelakunya. 

Betapa luasnya rahmat Allah. Betapa agung balasan dari-Nya. Dia telah menyiapkan balasan surga kepada seorang hamba-Nya yang telah berbuat kebaikan. Walaupun amal yang dilakukannya sangat kecil, yaitu menyingkirkan sebuah duri di jalan. 

Berkaca pada hadits di atas, betapa mirisnya bila ada orang yang sengaja membuang sampah di jalan. Sebab, Islam telah mengajarkan sebaliknya. Bahkan, dibalas dengan pembalasan yang sangat besar. 

Pohon yang boleh dipotong tentu pohon yang mengganggu jalan kaum Muslimin. Adapun pohon yang dapat memberikan manfaat, seperti pohon yang rindang dan menaungi orang yang lewat dari teriknya sinar matahari, tidak boleh diganggu. Bahkan, orang yang memotong pohon yang berguna diancam oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan ancaman siksa neraka. 

Bila menyingkirkan duri saja dinilai begitu berharga dalam Islam, bagaimana dengan kebaikan yang berdampak kemaslahatan yang lebih besar. Tentu nilainya jauh lebih besar dari itu. Tidak ada kebaikan yang bernilai remeh, sekecil apa pun. Yang ada adalah manusia sering meremehkannya.   

Wallahu a’lam.

Sabtu, 31 Juli 2021

Memanggilmu kembali, apa bisa?


Ini tentang ceritaku sebagai seorang anak yang tinggal bersama ibu dan kakakku. Aku adalah anak ke 3 dari tiga bersaudara. Ayahku sudah meninggal semenjak aku kelas 6 SD. Semenjak itu aku menjadi kesepian tanpa seorang ayah, yang dulu waktu beliau hidup ia selalu menjaga dan menyayangiku sejak kecil, yang tak pernah membuatku kecewa akan hari-hari yang pernah aku lalui bersamanya.

Menurutku, ayah adalah segalanya buatku. Dulu aku belum mengerti betapa pentingnya seorang ayah dalam keluarga, tapi sekarang waktu aku beranjak dewasa aku mulai mengerti betapa berartinya seorang ayah dalam keluargaku.

Andai waktu bisa diulang kembali. tapi itu tidak mungkin. Tapi rasa menyesalpun tidak ada gunanya sekarang, semua pasti akan kembali pada Nya. Kita hanya bisa mendoakannya agar ditempatkan di tempat yang sempurna di sisi Nya.

Aku adalah beban keluarga menurutku. Tapi disisi lain aku tidak ingin menjadi beban keluarga. Aku ingin membuat keluargaku bahagia mempunyaiku. Aku ingin kakakku bangga mempunyai adik sepertiku. Maka dari itu semua itu membutuhkan perjuangan yang sangat keras untuk mendapatkan semua itu.

Suatu hari kakakku bilang kepadaku, "aku ingin kamu jadi orang sukses, aku ingin kamu bisa mengangkat derajat keluargamu, kamu adalah anak terakhir yang menjadi harapan keluarga satu satunya. jadi, jangan sampai kamu mengecewakan atau memperburuk nama keluarga mu." Dan saat itulah aku terdiam dan berfikir. Kata kata itu masih teringat ingat sampai sekarang dan sampai kapanpun.

Selasa, 27 Juli 2021

JANGAN MENJADI GENERASI KOPID


Halo generasi masa depan. BBW selalu menyapamu hingga di dunia rebahanmu. Saat ini kita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja loh. Gunakanlan energi kita menjadi bahan produksi hal-hal baik. Bagaimana caranya ?

Untuk menghentikan penyebaran Virus COVID-19 merupakan kewajiban yang tidak hanya dibebankan oleh pemerintah atau kelompok kepentingan, namun secara lebih luas, peran masyarakat dari beragam profesi, latar belakang agama hingga usia menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan bersama. Salah satunya yang saat ini sangat ditunggu perannya ialah generasi masa kini atau sering disebut sebagai generasi milenial.

Pertama anak muda zaman now harus mau mendorong keterbukaan potensi diri. hal ini penting karena jika potensi diri tersebut tidak tepat sasaran maka kita tidak mengetahui kemampuan yang harus diasah. ingat seharusnya hal ini jangan terabaikan. Cara tercepat mengenali potensi diri yakni mau intropeksi diri dan mau belajar hal baru serta seringlah konsultasi dengan orang tua, guru dan sahabat yang bisa dipercaya.

Kedua generasi millenial agar dapat menyesuaikan diri dengan kondisi saat ini dan siap menghadapi masa pandemi Covid-19 dengan cara menerapkan tiga macam strategi untuk bertahan hidup dalam mengatasi goncangan dan tekanan ekonomi yaitu menggunakan strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan.

Menyikapi tantangan masa pandemi dengan cepat beradaptasi pada keadaan, kritis dalam masalah dan kreatif atau mampu berkolaborasi agar mampu bertahan hidup melalui penerapan strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Strategi tersebut mampu membuat generasi millenial tetap bertahan hidup secara produktif dan mampu mengatasi jumlah pengeluaran dengan kebutuhan hidup yang besar selama masa pandemi Covid-19.

Secara sederhana buatlah diri kita menjadi sosok yang mempunyai daya peran aktif, apapun yang bisa lakukan selama itu baik dan bermanfaat segeralah lakukan. Jangan banyak diam apalagi saling menyalahkan. Mari terus berjuang menjadi pelopor hal baik dan peduli sesama.

ORANG TUA DI SEKOLAH


Orang tua kita di sekolah adalah bapak ibu guru maka dari itu kita harus menghormati dan menyayangi, bapak ibu guru memberikan ilmu atau pengetahuan yang beragam maka dari itu kita jangan mengecewakan mereka agar hati nya tidak terluka.

Sekolah adalah wadah untuk kita berkarya dan menuntut ilmu kita disekolah pasti kita di ajarkan menjaga kebersihan seperti tidak membuang sampah sembarang, menyapu kelas, dan lain lain.

Bapak ibu guru mengajarkan sopan santun juga ilmu yang mereka punya mereka mengajarkan dengan penuh kesabaran, ilmu yang mereka berikan seperti matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, seni budaya, bahasa Jawa, prakarya, dan lain lain.

Sikap kita terhadap ibu bapak guru yaitu mendengarkan mereka ketika di terangkan, selalu mengerjakan tugas yang di berikan oleh bapak ibu guru, mengucapkan salam ketika mau ke kelas atau keruang guru, selalu datang tepat waktu.

Jasa seorang guru sangat besar karena mereka selalain memberikan ilmu mereka juga harus sabar, mereka juga selalu memberikan motivasi kepada kita, dan selalu menyemangati kita agar kita tidak pernah putus asa.

Baik boleh tapi jangan terlalu baik. Kenapa?

Mau disakitin bagaimanapun berbuat baik itu harus punya hati yg lapang itu penting biar bisa memaafkan bisa jadi untuk menjadi prinsip tanpa ingin balas imbalan ya, "tetaplah baik pada siapapun tanpa mengharapkan balasan dari mereka".

Jika berbuat baik karena landasan ucapan terimakasih lantas apa artinya ikhlas. Sesuatu dengan pondasi keikhlasan itu penting ya, sebab akan menjadi obat hati ketika ada yang melukai. Jangan sampai punya pandangan seperti ini, "Baik boleh tapi jangan terlalu baik, karna ga semua orang tau berterima kasih."

Pada kenyataan kita harus sadari untuk kembali menjadi makhluk sosial dimana rasa sosial ada saling menghubungkan atau membutuhkan satu sama lain. Jadi selayaknya manusia berinteraksi dan bisa memahami satu sama lain. Teruskan kebaikan menjadi kebiasaan baik jangan pernah berkeinginan membalas dengan keburukan setelah kebaikan.

Kuatkan kita dari diri sendiri


Tidak usah berharap untuk dihargai, kamu punya harga diri yang harus dimengerti dan dijaga oleh dirimu sendiri.

“Allahumma Rabbannaasi Adzhibil Ba'sa Wasy Fihu, Wa Antas Syaafi, Laa Syifaa-a Illa Syfaauka, Syifaan Laa Yughaadiru Saqaama.”: "Ya Allah, Rabb manusia, hilangkan penyakit dan berikan dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan”.

Apa itu menghargai diri sendiri?
Dalam ilmu psikologi, self-esteem atau harga diri adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan rasa keberhargaan dan nilai personal seseorang, terhadap dirinya sendiri. Self-esteem merujuk pada cara individu tersebut menghargai, mengapresiasi, dan menyukai diri sendiri.

Kenapa menghargai diri itu penting?
Rasa hormat itu penting karena akan meningkatkan kepercayaan diri. Saat ada dikeadaan yang didominasi oleh orang lain, Anda akan kehilangan harga diri. Jika menghargai diri sendiri, Anda akan memiliki kekuatan untuk menghadapi situasi apa pun. Pada gilirannya itu akan membangun tingkat kepercayaan yang kuat.

Sebenarnya menghargai diri sendiri bagian dari mengajarkan kita tentang mengenali kualitas diri. Kita akan tahu kelemahan dan kekuatan kita, sehingga ketika menghadapi masalah, kita dapat melaluinya dengan baik dengan menggunakan kekuatan yang sudah ada.

Minggu, 18 Juli 2021

Siaga Covid19 Tim Karang Taruna Desa

 





Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).

Virus ini menular melalui percikan dahak (droplet) dari saluran pernapasan, misalnya ketika berada di ruang tertutup yang ramai dengan sirkulasi udara yang kurang baik atau kontak langsung dengan droplet.

Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala.